Sadar nggak sih, tiap buka Instagram, jempol kamu biasanya sudah otomatis nge-klik fitur Story?

Walaupun kadang kita udah tau isinya cuma keseharian, foto/spot instagramable, atau musik yang lagi di dengerin, tetep aja kamu ‘tamatin” nonton.  

Kamu sebenarnya bisa menghentikan stories dengan mengetuk tanda X di bagian kanan atas. Namun, orang-orang biasanya cenderung memilih swipe kanan untuk melewati Instagram story yang membosankan dan mencari yang seru. Kamu ketagihan akan tayangan apa yang muncul selanjutnya.

Dilansir Healthline, menurut psikolog Raffaello Antonino “Instagram Story berfungsi seperti episode film, Anda terpaksa menontonnya secara berlebihan. Fakta bahwa mereka berputar cepat, membuatnya semakin menarik untuk ditonton satu persatu.” 

 Stories akan hilang sendirinya setelah 24 jam, bikin orang-orang lebih nyaman posting di Instagram Story daripada di Feed karena biar ngga dianggep ‘nyampah/spam’ kalo posting. 

Ngga jarang, kalo kita udah update story, kita bakal mengulang nonton Story tersebut. Bahkan sampe ngecek siapa aja yang udah nonton. Secara ngga sadar, kita sedang mengembangkan konsep diri dengan mengamati sudut pandang orang lain terhadap kita. Dalam ilmu sosiologi, teknik ini dikenal dengan nama looking glass self theory.

Meski media sosial bisa  bikin kita sangat adiktif, namun bukan berarti kita harus menghapus akun media sosial kita. 

Masih banyak kok konten-konten informatif yang sebenarnya bisa didapat dari media sosial. 
Pesan mimin sih… tinggal pintar-pintar mengelola lingkar pertemanan di media sosial, setuju?

Lihat juga konten ini di Instagram Siberkreasi, ya!

Sumber:
Cnn.com
brilio.net