Siberkreasi Netizen Fair (SNF) 2022

Literasi Digital – Siberkreasi, 14 Desember 2022 (mix.co.id)

Siberkreasi Netizen Fair (SNF) 2022 baru saja digelar oleh Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi dengan didukung sepenuhnya oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) di Yogyakarta pada Desember ini. SNF 2022 menghadirkan 6 sesi talkshow OOTD dan 10 sesi workshop, yang diikuti oleh 665 peserta offline dan lebih dari 1.400 peserta online.

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menegaskan bahwa SNF adalah festival tahunan yang memberi masyarakat wadah berdiskusi tentang literasi digital. “Walau kita menghadapi tantangan pandemi Covid-19, kita harus memberikan bukti bahwa kreativitas di dunia digital tidak surut, tapi bahkan bertambah maju. Seluruh warganet diharapkan dapat memanfaatkan teknologi lebih baik bersama Siberkreasi maupun berdaya sendiri untuk dapat bersaing,” harapnya.

Pada Talkshow Obral-Obrol liTerasi Digital (OOTD) yang berlangsung di panggung utama, dibahas sejumlah tema seperti ruang digital yang inklusif, transformasi digital, public speaking, keamanan data pribadi, perundungan di media sosial, dan tantangan bagi Gen Z di media sosial.

Yosi Mokalu sebagai Ketua Umum GNLD Siberkreasi menuturkan, “Siberkreasi merupakan gerakan yang didasarkan oleh keinginan pegiat literasi digital untuk mencerdaskan kehidupan seluruh masyarakat Indonesia di bidang literasi digital, termasuk mereka yang memiliki keterbatasan secara akses dan keterbatasan yang lain. Teman difabel memiliki hak dan kewajiban yang sama di ruang digital, sehingga membutuhkan perhatian kita agar mereka dapat memanfaatkan teknologi digital.”

Sementara itu, Asep Kambali dari Komunitas Historia Indonesia, menerangkan, “Kolaborasi akan tercipta jika kita mempertemukan kekurangan dan kelebihan dalam satu waktu. Transformasi digital akan terjadi jika ada kolaborasi seperti itu,” ucapnya.

Pada kesempatan itu, Asep juga mengajak para peserta untuk mulai berkolaborasi membangun awareness terhadap pemanfaatan teknologi digital di masyarakat dalam era transformasi digital.

Selanjutnya, Nadia Mulya dari CommPassion memperkenalkan tentang YMCA, yaitu Yourself, Message, Channel, dan Audience, yang merupakan empat aspek komunikasi yang perlu diterapkan oleh komunikator agar pesan tersampaikan dengan benar kepada pendengar. “Komunikasi itu adalah siapa bilang apa, melalui apa, kepada siapa, dan efeknya seperti apa,” ucapnya.

Adapun Donny B.U dari ICT Watch sebagai Dewan Pengarah Siberkreasi berbagi tips agar tidak salah memberikan data ke aplikasi berbahaya, misalkan ketika bertransaksi di aplikasi fintech. “Syarat [melakukan transaksi di dunia digital adalah memastikan apakah aplikasi fintech itu terdaftar di OJK (Otoritas Jasa Keuangan), sudah terdaftar di Kominfo atau belum. Kalau sudah terdaftar, berarti relatif aman,” ucapnya.

Pada kesempantan yang sama, Diena Haryana dari Sejiwa sebagai Dewan Pengarah Siberkreasi, berpesan kepada seluruh peserta untuk menunjukkan diri mereka yang terbaik, terlepas dari apapun yang orang lain katakan untuk membangun kepercayaan diri. Hal ini bisa mencegah diri kita terjerumus sebagai korban maupun pelaku perundungan.

Wicaksono yang dikenal sebagai Ndoro Kakung, sebagai Dewan Pengarah Siberkreasi, juga menyatakan bahwa teknologi selain membawa dampak positif, bisa membawa dampak negatif terhadap kesehatan mental anak-anak muda. Salah satu dampaknya adalah kehilangan fokus. Karena terdistraksi dengan gadget, anak muda menjadi abai terhadap lingkungan sekitarnya. “Anak-anak muda Gen-Z harus diingatkan bahwa teknologi bisa bermanfaat tapi juga bisa membuat celaka jika tidak ada batasan dalam menggunakannya,” tutupnya.

Per Desember 2022, Kemenkominfo telah berhasil melakukan literasi digital kepada lebih dari 5.500.000 penduduk Indonesia di segmen kelompok masyarakat, komunitas, pendidikan, dan pemerintahan.

Sumber artikel: mix.co.id

#MakinCakapDigital #LiterasiDigital #Siberkreasi / dbu