(Siberkreasi, 5/5/2024) Gembok digital, alias piranti lunak pengaman yang melekat atau dapat dipasang pada gadget / gawai kita adalah sebentuk ikhtiar untuk meminimalisir agar data pribadi kita tidak mudah dicolong orang lain. Gembok digital itu beragam macamnya, dari sekedar pasang lockscreen pakai password, sampai dengan upaya lanjutan semisal pasang antivirus hingga virtual private network (VPN).

Untuk mengetahui apakah netizen Indonesia, khususnya mereka yang tergabung dalam Channel WA Siberkreasi, telah memasang gembok digital apa belum, dan apa jenisnya, maka pada Selasa (30/5/2024) hingga Sabtu (4/5/2024) diadakan survei online sederhana.

Pada hasil survei yang diikuti oleh sekitar 1300-an responden tersebut, dapat dilihat bahwa sekitar 980-an responden (sekitar 73,4 %) menyatakan telah memasang gembok digital di gawai mereka, minimal screenlock menggunakan password angka. Adapun yang menjawab polosan saja, alias belum pasang gembok digital apapun di gawai mereka ada sekitar 350-an responden (sekitar 26,6%).

Jika kemudian dilihat lebih lanjut dari responden yang menyatakan telah memasang gembok digital, apa saja upaya yang mereka telah lakukan (boleh pilih lebih dari satu), maka jawaban mereka adalah sebagaimana diagram di bawah ini:

Mengunci layar gawai (lockscreen) dengan standar minimum berupa password berupa angka saja dipilih oleh 986 responden. Kenudian lockscreen dengan angka dan huruf (alfanumerik) dipilih oleh 348 responden, lockscreen dengan pattern atau pola dilakukan oleh 519 responden, dan lockscreen dengan pengunci biometrik dipilih oleh 588 orang. Tentu saja pilihan “angka saja” lebih banyak dipilih, karena memang cukup simpel mengingatnya. Pun tidak semua gadget sudah dilengkapi dengan sistem pengaman biometrik yang juga simpel pengoperasiannya.

Kemudian untuk pilihan gembok digital antivirus ataupun virtual private network (VPN), ternyata keduanya adalah yang paling sedikit dipilih. Memasang antivirus dipilih oleh 206 responden, sedangkan VPN oleh 212. Ini dapat dikatakan bahwa baik antivirus dan VPN setara, karena memang gembok digital ini memerlukan kemampuan dan pengetahuan tambahan dari penggunanya, pun gawai yang digunakan haruslah memadai kapasitasnya.

Jika diasumsikan pemasang antivirus juga adalah pemasang VPN (atau dapat pula sebaliknya), maka sekitar 206 responden, maka jumlahnya adalah sekitar 20% dari total 986 responden yang memasang gembok digital standar paling minimum (dengan password angka saja). Dalam bahasa sederhananya, 1/5 (atau 20%) dari mereka yang relatif paham keamanan digital gawainya, telah menambah gembok digitalnya dengan antivirus dan VPN. Mantap gaes!

Catatan:

  • Silakan unduh sejumlah materi edukasi 4 (empat) pilar literasi digital CABE (Cakap, Aman, Budaya, Etika) di s.id/4pilarcabe
  • Artikel dan survei ini tidak ditujukan untuk kepentingan akademis ataupun kaidah ilmiah. Survei dilakukan secara online pada Channel WA Siberkreasi dengan lingkup khalayak terbatas, untuk memberikan gambaran terkait suatu isu tertentu dan pada retang waktu tertentu.
  • Silakan ikuti Channel WA Siberkreasi untuk mendapatkan informasi berkala tentang Literasi Digital dan mengikuti ragam survei online sederhana berikutnya.

(Donny B.U / Siberkreasi)